ngopidw.com – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengajak stasiun televisi untuk bertransformasi menjadi perusahaan teknologi yang berbasis konten digital. Langkah ini diperlukan mengingat perubahan ekosistem media akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Transformasi ini menunjukkan bahwa televisi tidak lagi hanya berfungsi sebagai lembaga penyiaran, tetapi harus menjadi perusahaan teknologi konten yang menggabungkan inovasi dengan jurnalisme yang berintegritas.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menjelaskan bahwa Metro TV dan stasiun televisi lainnya harus melihat dirinya sebagai perusahaan teknologi konten. Menurutnya, teknologi khususnya AI harus masuk ke semua aspek, mulai dari ruang redaksi hingga distribusi. Hal ini disampaikan oleh Nezar saat berbicara di Jakarta, Senin (3/11).
Nezar menyebutkan bahwa dunia saat ini memasuki era media 3.0 yang dikendalikan oleh algoritma dan AI. Penonton kini tidak lagi menelusuri siaran secara manual, tetapi menerima rekomendasi tayangan dari sistem berbasis AI. Perubahan ini menjadi tantangan bagi pola siaran tradisional yang masih bergantung pada jadwal tetap.
Menurut Nezar, kendali konten kini ada di tangan AI. Ini mengubah cara orang menonton dan mengguncang model distribusi media konvensional. Meski menimbulkan tantangan, ia menilai AI juga membuka peluang baru bagi industri televisi untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi.
Teknologi ini dapat digunakan untuk mempercepat proses produksi, memperbaiki kualitas audio-visual, serta menganalisis data penonton untuk pengambilan keputusan editorial.
“AI bisa membantu kerja redaksi, tapi jangan sepenuhnya diserahkan pada mesin. Tetap harus ada human in the loop, agar berita tidak kehilangan akurasi dan nilai etikanya,” ujar Nezar.
Ia juga mengingatkan adanya risiko penyalahgunaan AI, seperti deepfake, disinformasi, dan halusinasi data yang dapat merusak kredibilitas jurnalisme. Contoh kasus yang disampaikan adalah lembaga survei di Australia yang harus membayar 440 ribu dolar karena menggunakan data buatan AI tanpa verifikasi manusia.
Tantangan dan Peluang dalam Penggunaan AI
Kementerian Komunikasi dan Digital akan terus mendukung inovasi media nasional agar dapat memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab tanpa menghilangkan nilai jurnalisme. Nezar menekankan bahwa teknologi bisa dipelajari, tapi jurnalisme harus tetap jadi nyawa kita.
Media yang bertahan bukan yang paling cepat beradaptasi secara teknis, tapi yang tetap menyajikan informasi benar dan membela kepentingan publik.
Dalam era media 3.0, perubahan yang terjadi membutuhkan adaptasi yang cepat dan tepat. Televisi harus mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas konten dan efisiensi operasional, namun tetap menjaga integritas jurnalisme. Hal ini membutuhkan keseimbangan antara inovasi teknologi dan prinsip etika dalam penyajian informasi.
Langkah-Langkah untuk Adaptasi
Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan oleh stasiun televisi antara lain:
- Meningkatkan pemahaman tentang AI dan bagaimana teknologi ini dapat diterapkan dalam berbagai aspek bisnis.
- Melibatkan tim redaksi dalam penggunaan AI untuk memastikan akurasi dan kredibilitas berita.
- Mengembangkan sistem monitoring untuk mengidentifikasi dan mencegah penyalahgunaan AI, seperti deepfake dan disinformasi.
- Memperkuat kolaborasi dengan lembaga teknologi dan akademisi untuk memastikan penggunaan AI yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Dengan langkah-langkah tersebut, stasiun televisi dapat memainkan peran penting dalam era media 3.0, sekaligus menjaga kualitas dan integritas jurnalisme.





