ngopidw.com – Kota Makassar, yang berada di Sulawesi Selatan, terus berupaya memperluas ekosistem digital guna meningkatkan adaptasi masyarakat terhadap perkembangan teknologi global. Meskipun infrastruktur digital kini mulai memadai, masih diperlukan akselerasi lebih lanjut baik dari sisi inklusi digital maupun penyediaan platform.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Makassar, Muhammad Roem, menjelaskan bahwa program smart city telah dimulai sejak tahun 2015. Capaian pada tahun 2024 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dengan skor 3,64 berdasarkan penilaian Kementerian Komunikasi dan Digital RI. Sementara itu, menurut Institut Management and Development (IMD), Indeks Smart City Makassar berada di peringkat 114 dari 142 kota di dunia.
Pengembangan smart city di Makassar dimulai dari adopsi digital dalam pemerintahan. Pemangku kebijakan setempat baru-baru ini meluncurkan aplikasi bernama Lontara+ yang merupakan bagian dari Makassar Super App. Aplikasi ini mengintegrasikan seluruh layanan perangkat daerah ke dalam satu platform, termasuk pengaduan masyarakat, telemedicine, informasi bantuan sosial, hingga pariwisata.
Tujuan utama dari integrasi tersebut adalah untuk meningkatkan efisiensi pelayanan publik digital serta mendorong partisipasi aktif warga dalam pembangunan kota. Menurut Roem, alasan pengintegrasian semua layanan adalah karena saat ini ada sekitar 358 aplikasi di lingkungan pemkot. Semakin banyak pintu masuk, semakin besar risiko kerentanan.
Meski begitu, platform digital terintegrasi seperti ini belum banyak dikembangkan di Makassar, terutama yang berfungsi untuk meningkatkan layanan bisnis. Roem menyebut bahwa masyarakat kota ini memiliki potensi besar untuk memanfaatkan daya ungkit smart city. Oleh karena itu, ia mendorong semua stakeholder untuk berperan dalam pengembangan ekosistem digital di Makassar.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah peningkatan kualitas pengusaha teknologi atau technopreneur untuk menciptakan berbagai platform terkemuka. General Manager Mobile Consumer Business Telkomsel Region Sulawesi, Andrew Mamahit, menyampaikan bahwa pihaknya secara konsisten mendukung pelaku technopreneur di Indonesia, termasuk di Makassar.
Melalui program impact incubator unggulan mereka, NextDev, Telkomsel baru-baru ini menghadirkan kurikulum inovasi AI-Powered Innovation Curriculum untuk para pengusaha teknologi. Program ini bertujuan memperkuat ekosistem digital melalui dukungan terhadap inovasi dan pengembangan bisnis startup, membantu para technopreneur dari tahap ide hingga menjadi bisnis digital yang matang dan berkelanjutan.
Manfaat dari program ini antara lain memberikan akses mudah bagi pengusaha teknologi untuk sesi mentoring dari ahli di bidangnya, terhubung dengan ekosistem digital relevan dan peluang kolaborasi, serta penguatan fondasi bisnis seperti strategi pertumbuhan, pemasaran, dan implementasi teknologi.
Tahun ini, Telkomsel memberikan kesempatan bagi technopreneurs dari berbagai sektor untuk mendaftarkan bisnis digital mereka. Bimbingan khusus diberikan, mulai dari pendampingan ahli yang fokus pada empat pilar utama, yaitu strategi, keuangan, pemasaran, dan produktivitas untuk membangun fondasi bisnis yang kuat.
Selain itu, tersedia konsultasi diagnostik dengan sesi khusus dan teknis untuk mengidentifikasi masalah dan menerapkan solusi efektif. Para technopreneurs juga akan diajak melakukan kolaborasi lintas ekosistem digital dengan melibatkan investor, komunitas, dan pemimpin industri.
Kehadiran NextDev dengan kurikulum berbasis AI, pendampingan ahli, dan konsultasi diagnostik yang komprehensif, disambut baik oleh pelaku ekosistem digital lokal. Abdul Malik Shodiqin, Founder Startup GoDentist, menyoroti pentingnya inisiatif ini bagi Makassar. Ia merasa bahwa kota ini membutuhkan ekosistem technopreneur yang bisa meregenerasi technopreneur baru.
“Kegiatan seperti ini bisa dimanfaatkan oleh kami agar punya kesempatan mengembangkan kapabilitas bisnis digital berbasis AI,” ujarnya.





